Pada periode Januari-September 2020 ekspor rumput laut Indonesia diketahui mencapai hingga 135,16 ribu ton dengan nilai ekspor sebesar 207,18 juta dolar AS.
Bila saja industri pengolahan di Indonesia sudah bisa mengolah berbagai banyaknya rumput laut kering atau bahan baku mentah yang terdapat di dalam negeri, maka akan semakin besar pula nilai manfaat perekonomian yang akan diperoleh.
Belum lagi diketahui bahwa sebenarnya potensi lahan budi daya rumput laut mencapai hingga sekitar 12,3 juta hektare, dan baru dimanfaatkan sekitar 272 ribu hektare (sekitar 2,25 persen) sehingga sebenarnya masih banyak sekali potensi yang bisa diraih ke depannya.
Saat ini sudah ada 36 Unit Pengolah Ikan (UPI) pengolahan rumput laut yang sudah mengantongi Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP), dimana paling banyak terdapat di Jawa Timur (11 UPI) dan Sulawesi Selatan (9 UPI).
Selain itu ada beberapa pabrik rumput laut yang diinisiasi pemerintah yang tersebar di beberapa wilayah yaitu di Kalimantan Utara, Gorontalo, Ternate, Luwu Timur, Bone, Jeneponto, Bombana, Buton Tengah dan Buton.
KKP sendiri juga telah membangun situs Tropical Seaweed Innovation Network (TSIN) sebagai platform untuk memperkuat jejaring pengembangan komoditas rumput laut di Tanah Air.
TSIN dinilai dapat berperan sebagai media yang efektif guna menjembatani komunikasi bisnis dan diseminasi hasil-hasil penelitian antara lembaga penelitian dan industri.
Tak hanya itu, TSIN juga diharapkan menjadi media koordinasi dan sinergi rencana aksi Pengembangan Industri Rumput Laut Nasional.
Sedangkan dalam hal strategi, KKP juga telah memiliki berbagai upaya percepatan peningkatan produksi rumput laut seperti melalui penyediaan bibit rumput laut kultur jaringan yang diproduksi oleh UPT DJPB (Ditjen Perikanan Budidaya) di antaranya di Lampung, Jepara, Situbondo, Takalar, Lombok, Ambon.
Penggunaan rumput laut kultur jaringan diyakini dapat memberikan hasil yang lebih baik di mana laju pertumbuhan rumput laut kultur jaringan sebesar 11,5 persen, sementara yang biasa hanya 7,5 persen.
Selain itu, ujar dia, rumput laut kultur jaringan juga memiliki kandungan karaginan yang lebih tinggi yaitu 40 persen, sedangkan kandungan karaginan rumput laut nonkultur jaringan hanya 34 persen.
Untuk itu para pembudidaya di berbagai daerah produksi rumput laut diharapkan pula untuk mengikuti petunjuk dari dinas, para penyuluh dan juga UPT DJPB dalam melakukan teknik budidaya.
Bagaimana halnya dengan kondisi pandemi yang saat ini sedang mencengkeram berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia?











![Oleh: [Novendra Jali Saketi, M.Pd]](https://www.jurnalsumatra.co/wp-content/uploads/2025/09/IMG_20250903_185230-150x150.jpg)

Komentar