Kelahiran 1960-an (The Lost Generation?)
Generasi Kiai Said Aqil Siradj sudah di ujung senja. Kemudi lokomotif selanjutnya akan dipegang generasi NU kelahiran 1960-an. Gerbong ini memuat puluhan kader potensial, bahkan mungkin ratusan, hingga ke level wilayah dan cabang. Mereka ditempa, dipersiapkan dan akan mendapat panggilan sejarah untuk memimpin nahdliyin satu dekade ke depan. Mereka adalah hasil kaderisasi PBNU pimpinan KH Hasyim Muzadi dan PBNU pimpinan KH Said Aqil Siradj.
Andi Jamaro Dulung (12 Desember 1960), Endin A.J Sufihara (17 November 1960), Akhmad Muqowam (1 Desember 1960), Saifullah Ma’shum (25 November 1960), Lukman Hakim Saifuddin (25 November 1962), Ali Masykur Musa (12 September 1962), Imam Aziz (29 Maret 1962), Abdul Halim Iskandar (14 Juli 1962), Achmad Effendy Choirie (17 Juni 1963), Marsudi Syuhud (7 Februari 1964), dan Saifullah Yusuf (28 Agustus 1964).
Kemudian Arvin Hakim Thoha (25 Oktober 1964), An’im Falahuddin Mahrus (06 Juni 1964), Yahya Cholil Staquf (16 Februari 1966), Marzuqi Mustamar (22 September 1966), Amin Said Husni (19 Agustus 1966), Muhaimin Iskandar (24 September 1966), Khatibul Umam Wiran (10 Februari 1966), Ulil Abshar-Abdalla (11 Januari 1967), dan Andi Najmi Fuadi (21 September 1968).
Gerbong kelahiran 1960-an ini panjang sekali. Bagi yang lahir 1960 ke atas, maka di muktamar ke 35, mereka akan berumur “kepala 6”. Sudah terlalu tua untuk bisa maksimal menyetir roda organisasi. Jangan berharap mereka bisa bermanuver menyelamatkan jama’ah, membuat jam’iyah kompetitif saja, tidak akan mudah. Menyimak data ini, kepemimpinan NU lima tahun ke depan, sebaiknya berada di tangan kader kelahiran 1960 ke bawah, yakni 1965 hingga 1969.
Jika kesempatan mereka ini lewat, maka akan lewat pula kepemimpinan satu “generasi” dari gerbong panjang ini. Mereka akan tergolong the lost generation. Hal itu bisa terjadi, kalau generasi di atasnya tidak suka rela menyerahkan kesempatan itu dan atau karena desakan lingkar dalam tertentu, sehingga mereka merasa masih bersesuaian menaklukkan milenium ketiga. Sebab, setelah satu kali muktamar ke depan, satu lapisan generasi terbaru siap menyongsong.
NU Satu Abad
Mereka masih berstatus mahasiswa saat KH Said Aqil Siradj memimpin PBNU. Mereka adalah komunitas anak muda NU yang sudah matang saat era millenial datang. Mereka akrab dengan gawai. Mereka sangat memahami ilmu angka-angka, statistika, diagram, dan ilmu kelengkapan lainnya. Sejumlah nama bahkan sudah teruji dan sukses menjadi kepala daerah. Ukuran sukses mereka tidak saja di lingkup badan otonom NU, tetapi sudah lintas sektoral.












Komentar