oleh

Urgent! 7 Rumah di RT 16 Terancam Amblas ke Sungai Rawas, Akses Rupit–Karang Dapo–Rawas Ilir di Ambang Putus Total

MURATARA, JURNAL SUMATRA -Ancaman bencana serius kini menghantui warga RT 16, Kelurahan Muara Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Sedikitnya tujuh rumah warga berada di ujung bahaya akibat abrasi hebat di bantaran Sungai Rawas yang terus menggerus tanah secara masif.

Hasil pantauan di lapangan menunjukkan kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Jarak antara bangunan rumah dan bibir sungai kini hanya tersisa sekitar satu jengkal. Dengan ketinggian tebing mencapai 2 hingga 3 meter, rumah-rumah tersebut berisiko amblas sewaktu-waktu dan ‘terjun’ ke aliran sungai. Kamis (30/04/26)

Tak hanya itu, panjang tebing yang mengalami kondisi darurat diperkirakan mencapai 200 hingga 300 meter. Laju abrasi yang semakin agresif, terutama saat curah hujan tinggi dan debit air meningkat, mempercepat potensi longsor di kawasan tersebut.

Warga setempat, Zainal Abidin, menegaskan bahwa persoalan ini sudah berlangsung lama tanpa penanganan serius. Ia mengungkapkan bahwa laporan terkait abrasi telah disampaikan kepada pemerintah daerah hingga DPRD Muratara sejak tahun 2016. Namun hingga kini, belum ada langkah konkret yang dirasakan masyarakat.

“Sudah bertahun-tahun kami sampaikan, tapi belum ada tindakan nyata. Dalam satu tahun terakhir ini kondisinya makin parah, apalagi kalau hujan deras, tanah makin terkikis,” ujar Zainal dengan nada kecewa.

Ia juga mengkritisi lambannya respons pemerintah dalam menghadapi situasi yang semakin darurat ini. Menurutnya, jika dibiarkan, dampaknya tidak hanya merenggut rumah warga, tetapi juga mengancam infrastruktur vital di wilayah tersebut.

Ancaman lain yang tak kalah serius adalah potensi terputusnya akses jalan utama yang menghubungkan Rupit, Karang Dapo, hingga Rawas Ilir. Jalur ini berada sangat dekat dengan titik abrasi dan berisiko ikut longsor apabila tidak segera dilakukan penguatan tebing. Selain itu, tiang Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) di sekitar lokasi juga dilaporkan dalam kondisi rawan terdampak.

Warga mendesak pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat untuk segera turun tangan melakukan penanganan darurat. Pembangunan turap, penguatan tebing, serta langkah mitigasi lainnya dinilai sangat mendesak guna mencegah kerugian yang lebih besar.

Situasi ini menjadi alarm keras bagi semua pihak. Penundaan penanganan hanya akan memperbesar risiko. Jika tidak segera ditangani, bukan hanya tujuh rumah yang akan hilang, tetapi juga akses vital dan keselamatan warga yang berada di garis ancaman.(AkaZzz)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed