Bukan hanya untuk diri sendiri, orang-orang termasuk para tenaga medis, bisa mencoba menjadi role model bagi lingkungannya, termasuk dalam urusan bersosialisasi.
“Minimal di lingkungan RT. Kalau saya salat di mushola, di mushola saya paling tidak harus menjaga jarak, harus ada maskernya, harus ada hand sanitizer, atau fasilitas cuci tangan. Kalau kita bisa menjadi role model, maka kita akan mencoba untuk mengubah di mana kita berada,” tutur Adib.
Belakangan, saat vaksin COVID-19 ditemukan, orang-orang diminta menjalani vaksinasi untuk menurunkan risiko terkena COVID-19, walau memang tak ada jaminan 100 persen.
Lalu, sampai kapan kebiasaan baru ini diterapkan? Ridwan menyebut sampai terkendalinya COVID-19 atau kekebalan kelompok sudah terbangun.
“Kalau berbicara kekebalan kelompok, ini sifatnya jangka panjang, mungkin masih butuh dua tahun atau tiga tahun terbentuk karena kita membutuhkan 70-80 persen populasi harus terbentuk imun atau mendapatkan vaksinasi,” kata dia.
Jangan hanya karena pandemi
Realitanya, perilaku hidup sehat bisa dimotivasi berbagai faktor dan tak harus gara-gara pandemi. Seorang perempuan yang berprofesi sebagai jurnalis di Jakarta sekaligus ibu dua anak, Indah Handayani (36), termasuk yang getol soal praktik hidup sehat.
Motivasi utamanya, menghindari stroke. Dia yang pernah memiliki bobot 98 kg menyadari kondisi obesitas bisa berdampak buruk bagi kesehatannya. Sang suami, dengan berat badan 95 kg sempat terkena stroke di usia 38 tahun.
“Aku sadar banget kegemukan enggak bagus, bahkan suami yang masih umur 38 tahun saja sudah kena (stroke). Akhirnya, kami ubah pola makan dan gaya hidup,” kata dia kepada ANTARA belum lama ini.
Indah dan suami kemudian menjalani gaya hidup yang dimulai dari pola pikir ingin sehat dan jauh dari penyakit.
Dia berolahraga rutin yang awalnya tiga kali seminggu dengan sepeda statis selama 15 menit, kemudian meningkatkan intensitas berolahraganya menjadi lima kali dengan durasi naik bertahap yakni 20 menit, lalu setelah 2 bulan naik menjadi 30 menit.
Indah juga menambah aktivitas lain, jalan pagi pada hari Sabtu atau Minggu dengan menerapkan protokol kesehatan.
Soal pola makan, dia tidak melewatkan satu pun waktu makan. Setiap hari dia sarapan lalu snacking pukul 10.00, makan siang pukul 12.00, snacking kembali pukul 15.00 dan makan malam pukul 17.00.
Menu makanan yang dia pilih biasanya roti gandum, keju slice, susu dan buah seperti apel, pisang, salak, pepaya tanpa melupakan asupan nutrisi makro dan mikro.
Saat ini, bobot Indah sudah turun menjadi 68 kg sementara sang suami 60 kg. Dia berniat menurunkan berat badan 5-10 kg lagi tahun ini untuk benar-benar pensiun dari predikat obesitas.













Komentar