Hari ini, Habar Jumputan mempekerjakan belasan tenaga kerja dengan omzet berkisar Rp75 juta hingga Rp100 juta per bulan. Dari usaha yang bermula dari pinjaman sederhana, Devi kini memiliki aset produk untuk beberapa cabang. Bahkan, dari hasil jerih payahnya, ia mampu memberangkatkan keluarga untuk umrah serta mendaftarkan ibunya menunaikan ibadah haji.
Di tangan Devi Hermayani, sehelai kain jumputan bukan hanya menjadi busana. Ia menjelma menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, tentang budaya yang terus hidup, dan tentang harapan yang dirajut dari benang-benang ketekunan.
Bagi Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, kisah Habar Jumputan adalah potret nyata bagaimana pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi.
“Habar Jumputan menunjukkan bahwa UMKM tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi lokal. Dengan inovasi dan pendampingan yang tepat, kain jumputan tetap relevan di tengah perkembangan zaman,” ujar Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi.
Sebagai bagian dari implementasi Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), pemberdayaan Habar Jumputan turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Tujuan 1 (Tanpa Kemiskinan), Tujuan 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), serta Tujuan 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan). Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel berkomitmen untuk terus mendukung UMKM yang melestarikan kearifan lokal dan budaya daerah.(****)













Komentar