MURATARA, JURNAL SUMATRA – Puluhan tanaman produktif milik warga di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) dilaporkan mati diduga akibat luapan air dari parit di areal PT Agro Muara Rupit (PT AMR) East (Estate). Peristiwa ini memicu keluhan masyarakat karena berdampak langsung pada kebun karet serta tanaman buah-buahan yang menjadi sumber penghidupan mereka. Kamis (02/04/26)
Berdasarkan informasi yang dihimpun, luapan air diduga terjadi setelah adanya penutupan aliran anak sungai di sekitar lokasi perusahaan. Kondisi tersebut menyebabkan air tidak mengalir secara normal dan meluap ke lahan warga, merendam tanaman hingga akhirnya mati.
PT Agro Muara Rupit (PT AMR) diketahui merupakan bagian dari SIPEF Group, perusahaan agribisnis asal Belgia yang bergerak di sektor produksi kelapa sawit, karet, dan teh dengan konsep keberlanjutan di Indonesia. Namun demikian, aktivitas di wilayah AMR East (Estate) kini menjadi sorotan menyusul munculnya dugaan dampak lingkungan terhadap lahan masyarakat.
Salah satu warga terdampak, Evi, pemilik kebun karet serta tanaman durian dan duku, mengungkapkan kekecewaannya. Ia menyebut tanaman miliknya yang sebelumnya masih produktif kini mati akibat genangan air yang tidak kunjung surut.
“Ini sudah terjadi dua kali. Air dari parit milik perusahaan meluap dan merendam kebun kami sampai tanaman mati,” ujarnya.
Evi mengaku mengalami kerugian besar, mengingat tanaman yang rusak telah berusia puluhan tahun dan ditanam jauh sebelum perusahaan beroperasi di wilayah tersebut.
Ia juga menjelaskan bahwa sebelumnya terdapat anak sungai yang menjadi jalur alami aliran air di sekitar kebunnya. Namun, aliran tersebut diduga telah ditutup, sehingga air meluap dan menggenangi lahan warga.
“Dulu air mengalir lewat anak sungai, sekarang ditutup. Jadi air meluap ke kebun kami,” tambahnya.
Sementara itu, saat dikonfirmasi, pihak PT AMR East belum dapat memberikan keterangan resmi. Salah satu petugas keamanan di pos penjagaan menyampaikan bahwa manajer perusahaan sedang tidak berada di tempat dan belum bisa ditemui.
Namun, petugas tersebut juga menyampaikan bahwa parit yang sebelumnya diduga ditutup kini telah dibuka kembali.
“Kalau tidak percaya, silakan cek langsung ke lokasi di lapangan,” ujarnya.
Kasus ini menambah daftar persoalan konflik lingkungan antara perusahaan dan masyarakat, khususnya terkait pengelolaan aliran air. Warga berharap adanya perhatian serius dari pihak terkait agar permasalahan ini segera ditangani dan tidak kembali terulang.(AkaZzz)












Komentar