MUARA ENIM, JURNAL SUMATRA – Matahari belum lama terbit di langit Muara Enim, tetapi asap sudah mengebul di tungku malam. Ira (42) tampak duduk di atas dingklik. Kain putih terkulai di tangan kirinya. Canting berisi malam di tangan kanannya.
Tangan Ira meliuk-liuk, menuntun malam menyusuri pola di atas kain. Berjam-jam ia habiskan di atas dingklik, ditemani malam yang mendidih di atas tungku.
Sudah sekitar tiga tahun Ira menekuni pekerjaan sebagai pengrajin batik di Rumah Kreatif Boek Khaman.
Seperti biasa, setelah membereskan pekerjaan rumah. Ia membatik dari siang hingga sore. Namun, saat pesanan menumpuk, bersama 11 orang perempuan pembatik lainnya Ira membatik dari fajar hingga menjelang malam.
Ketika pesanan Batik Khaman sedang tinggi, Ira sering teringat masa-masa perjuangan pasca pandemi. Kala itu, keluarga Ira menggantungkan hidup pada penghasilan sang suami, Sandra Sugianto (52), yang berprofesi sebagai buruh karet.
Pendapatan dari mengurus kebun karet orang, tidak menentu. Biasanya, keluarga Ira hanya memiliki penghasilan sekitar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per bulan. Demi menyambung hidup bersama suami dan dua anaknya, Ira mesti berjualan kue. Dan penghasilannya pun tidak sebanding dengan kerasnya usaha berjualan masa pandemi.
Sekitar tahun 2021, Ira mendapat tawaran dari Ketua Kelompok Batik Boek Khaman, Etika Oktasari untuk membantu produksi batik. Sedikit demi sedikit Ira belajar membatik. Kemudian ia tularkan semangat belajar itu ke anaknya, Syafira Dese Novianti (22), serta perempuan-perempuan di Desa Lubuk Raman, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.
Dan kini, Syafira bisa menyandang status sarjana berkat ikut membatik di Rumah Kreatif Boek Khaman.
Ketekunan Ira, Etika, dan perempuan-perempuan di Lubuk Raman menginspirasi Pertamina EP (PEP) Limau Field. Perusahaan migas yang menjadi bagian Pertamina Subholding Upstream Regional 1 Zona 4 (Pertamina Hulu Rokan/PHR Zona 4) itu menggelar program Community Involvement and Development (CID) dalam mendorong pemberdayaan masyarakat melalui Rumah Batik Boek Khaman sejak 2023.

PEP Limau Field memberi pendampingan melalui pelatihan tata kelola keuangan dan administrasi kelompok, strategi penjualan produk, pembuatan batik eco-print, pengelolaan IPAL, perbaikan sarana dan prasarana, branding dan pengemasan produk, hingga perluasan akses pasar.
Buah dari pendampingan tidak hanya berfokus pada produksi batik Khaman, melainkan juga pengembangan produk UMKM berupa olahan pangan hingga buah tangan. Hingga saat ini, sudah terdapat 6 UMKM yang bergabung didalam Rumah Kreatif Boek Khaman.













Komentar