oleh

Mahasiswa Pertanian UMP Kunjungi Pagaralam, Belajar Kopi Raden Kuning

PAGARALAM, JURNAL SUMATRA – Kopi di Pagaralam bukan hanya soal rasa dan aroma, tapi juga tentang harapan hidup yang lebih baik bagi para petaninya. Perspektif inilah yang diperkenalkan Dinas Pertanian Kota Pagaralam saat terima kunjungan ratusan mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP), yang datang untuk belajar langsung mengenai produktivitas, kualitas, dan inovasi kopi Pagaralam yang telah mengantongi sertifikat Indikasi Geografis (IG).

Kunjungan edukatif tersebut menjadi momentum bagi Dinas Pertanian Kota Pagaralam untuk memperlihatkan potensi besar sektor perkebunan kopi, khususnya kopi robusta yang selama ini menjadi komoditas unggulan daerah. Selain kopi robusta, mahasiswa juga diperkenalkan dengan varietas baru yang tengah dikembangkan, yakni kopi Raden Kuning yang ditanam di wilayah Kecamatan Dempo Utara.

Kepala Dinas Pertanian Kota Pagaralam, Dra. Suterimawati, MM melalui Kepala Bidang Perkebunan, Anjas Hariansyah, menjelaskan bahwa kopi Raden Kuning merupakan varietas yang sangat sesuai dengan kondisi alam Pagaralam.

“Untuk kopi Raden kuning ini, syarat utamanya harus ditanam di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Kondisi iklim dan tanah Pagaralam sangat mendukung pengembangan varietas ini,” ujarnya Senin (12/1/2026).

Ia menambahkan, dalam pengelolaan kebun kopi, petani Pagaralam memadukan kearifan lokal dengan teknologi modern. Meski sebagian masih menggunakan cara manual, tidak sedikit petani yang telah memanfaatkan mesin modern, terutama pada kebun dengan skala besar.

“Perpaduan cara tradisional dan teknologi inilah yang menjadi kekuatan petani kopi Pagaralam,” ujarnya.

Menurut Anjas, kualitas kopi Pagaralam telah mendapatkan pengakuan nasional.

“Kota Pagaralam merupakan penyuplai kopi berkualitas terbaik yang sudah memiliki sertifikat Indikasi Geografis. Ini bukti bahwa kopi kita punya karakter rasa dan mutu yang diakui,”

Inovasi lain yang mendorong peningkatan produksi adalah penerapan teknik sambung pucuk atau stek menggunakan klon kopi robusta unggulan. Metode ini terbukti mampu meningkatkan hasil panen secara signifikan.

“Dulu satu batang kopi paling banyak menghasilkan setengah kilo sampai satu kilo. Sekarang dengan sambung pucuk, hasilnya bisa mencapai tiga kilo bahkan lebih per batang,” ungkap Anjas.

Manfaat inovasi tersebut dirasakan langsung oleh petani. Perwakilan Kelompok Tani Kibuk Rosi mengakui perubahan besar pada hasil dan kesejahteraan keluarga mereka.

“Sekarang kami sudah terbiasa dengan buah kopi yang lebat. Hasil panen meningkat, pendapatan juga ikut naik, sehingga ekonomi keluarga petani jauh lebih baik dibanding sebelumnya,” ujarnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed