oleh

300 Bibit Bambu dan Jelutung Diuji di Gambut OKI, Pengembangan Disiapkan hingga 100 Hektare

Jurnal Sumatra , OKI – Upaya pemulihan ekosistem gambut di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, terus didorong melalui inovasi penanaman tanaman yang memiliki nilai ekologis sekaligus ekonomi. Salah satunya melalui uji adaptasi tanaman bambu jenis betung dan jelutung dengan teknik tumpang sari pada ekosistem gambut.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mencari pola pengelolaan lahan gambut yang produktif, berkelanjutan, serta mampu menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Bupati OKI H Muchendi Mahzareki mengatakan, Kabupaten OKI memiliki kawasan gambut yang cukup luas, diperkirakan mencapai 600 ribu hingga 800 ribu hektare. Sebagian kawasan tersebut telah mengalami alih fungsi, di antaranya menjadi perkebunan dan kawasan hutan.

Menurut Muchendi, kegiatan restorasi gambut di lokasi tersebut telah dimulai sejak 2010 dan ditetapkan sebagai kawasan restorasi melalui surat keputusan yang berkaitan dengan program Badan Restorasi Gambut (BRG) kala itu.

“Dari total 20 hektare, sebagian kawasan sudah terbelah karena dilintasi jalan tol. Selain itu, sebelumnya juga terdapat persoalan klaim lahan sehingga proses ganti rugi hingga saat ini masih dalam penyelesaian di pengadilan,” ujarnya,Jumat (30/10/26)

Muchendi berharap, persoalan status dan ganti rugi lahan tersebut dapat segera diselesaikan sehingga kawasan restorasi bisa kembali dimanfaatkan untuk kegiatan pemulihan gambut di lokasi lainnya.

Ia juga menegaskan pentingnya dukungan pemerintah pusat dan provinsi, khususnya dalam pengelolaan tata air, kanal, serta pemanfaatan lahan gambut agar tidak menjadi pemicu kebakaran hutan dan lahan.

“Kita ingin lahan gambut di Kabupaten OKI dapat dikelola menjadi potensi yang memberikan manfaat bagi masyarakat, sekaligus menjaga ekosistem agar ke depan tidak lagi menjadi penyumbang asap akibat karhutla,” harapnya.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Selatan H Herman Deru menyambut baik kembali hadirnya institusi yang secara khusus mengawal pengelolaan gambut dan mangrove.

Menurutnya, kawasan gambut dapat memberikan manfaat apabila dikelola secara serius dan didukung komitmen bersama. Penanaman bambu dan jelutung yang dilakukan dalam kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya memperlihatkan bahwa lahan gambut dapat dimanfaatkan secara produktif tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.

Ia menjelaskan, jelutung merupakan salah satu tanaman yang telah dikenal masyarakat Kayuagung dan dinilai cocok dikembangkan di kawasan gambut. Sementara bambu juga memiliki potensi ekonomi, terutama untuk dikembangkan menjadi berbagai produk furnitur.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed