PAGARALAM, JURNAL SUMATRA – Sejumlah tokoh organisasi Nahdatul Ulama (NU) Pagaralam merasa kecewa dengan terpilihnya Deni Priansyah S. Ag, M. Ag sebagai Ketua PCNU Pagaralam, yang dilakukan melalui proses yang diduga direkayasa dan syarat kecurangan.
Sangat aneh, posisi Deni Priansyah saat ini menjabat Kepala Kemenag di NTB, tanpa ada angin dan hujan tau-tau langsung jadi Ketua PCNU Pagaralam, kemudian penujukan Deni Priansyah menjadi karateker (pejabat sementara) untuk mempersiapkan proses pemilihan PCNU Pagaralam juga sarat dengan, kecurangan. Mengingat, anggota NU yang sebelumnya menjabat pengurus PCNU juga tidak pernah diajak musyawarah meskipun hak prerogatif BP NU Pusat.
Kesempatan, penujukan karateker Deni Priansyah, ini juga banyak kejanggalan, pertama posisi Deni Priansyah menjabat Kepala Kemenag di NTB, kemudian jabatan karateker ini juga digunakan Deni Priansyah untuk merekayasa orang-orang duduk di pengurus kecamatan atau majelis wakil cabang (MWC) yang nantinya berhak mengusulkan dan memilih Ketua PCNU.
Sepertinya, rekayasa pemilihan Ketua Tahfiziah atau PCNU Pagaralam, sangat terorganisir dan rapi, mulai dari persyaratan, kaderisasi, terlibat kepengurusan cabang teaser dukungan dari DPW dan BP.
Sementara itu tokoh NU Pagaralam H Jamil Rusdi pada Senin (6/7/2026) menyayangkan ada muncul polemik di tubuh NU Kota Pagaralam, akibat adanya sebagian orang terlalu ambisi untuk menjadi ketua, yang seharusnya melalui prosedur yang benar, sehingga tidak menimbulkan perpecahan didalam tubuh anggota NU Pagaralam.
“Kita kurang setuju karena posisi ketua terpilih berada di NTB, dan lagi menjalankan dinas abdi negara yang tidak mungkin ditinggalkan,” ujar dia.
Lagipula, menurut dia, pengalaman organisasi calon ketua, wajib pernah menjadi pengurus harian PCNU, pengurus harian lembaga PCNU, pengurus harian majelis wakil cabang (MWC), atau pengurus harian badan otonom tingkat cabang sekurang-kurangnya satu masa khidmat, dibuktikan dengan surat keputusan (SK). (Kaci)













Komentar