oleh

Menanggalkan Riuh Masa Muda Menjinakkan Bara, Cerita Relawan Mahasiswa di Garis Depan Karhutla OKI

Leo tak datang dengan ilusi heroik bahwa dirinya sanggup menghentikan karhutla seorang diri. Ia paham betul penanganan karhutla butuh rantai logistik yang rumit, alutsista yang mumpuni, serta kebijakan pencegahan yang konsisten. Namun baginya, keterbatasan tak boleh menjadi dalih untuk diam dan sekadar menonton.

Menjaga Napas Para Pasukan.

Semangat relawan di Desa Jungkal menggugah Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru dan Bupati OKI H. Muchendi Mahzareki. Kedua pejabat daerah itu bahkan memilih menginap di posko karhutlah, meresapi dingin dan aroma pekat asap bersama para personel gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Karang Taruna, hingga relawan mahasiswa.

Kehadiran kepala daerah di garis depan membawa pesan terang: memahami krisis berarti turun merasakan jelutuh dan pekatnya asap bersama para petugas. Sebab, menjinakkan karhutla tak cukup dengan menyemprotkan air, melainkan juga bijak Menyusun strategi terutama merawat daya tahan manusia di belakangnya lewat manajemen lapangan.

Herman Deru pun menginstruksikan agar jajaran pemerintahan memastikan pasokan makanan tepat waktu, ketersediaan layanan kesehatan, dan rotasi sif yang disiplin.

“Soal makan dan pergantian sif harus benar-benar diperhatikan. Saya sangat respek dan berterima kasih kepada adik-adik sekalian. Kalian adalah pahlawan yang melindungi masyarakat dari api dan asap,” tegas Herman.

Apresiasi itu diwujudkan dalam dukungan konkret: kecukupan logistik, perlengkapan keselamatan yang layak, dan jaminan istirahat agar kelelahan tak berujung fatal di area operasi yang berbahaya.

Pilihan di Tengah Asap.

Suatu hari nanti, ketika titik api terakhir padam dan asap menipis, tugas ini akan usai. Adi akan kembali melangkah ke kampus Indralaya untuk menuntaskan kuliah hukumnya, sementara Leo bakal berkutat kembali dengan draf skripsi di Palembang.

Namun, hari-hari yang dihabiskan di Desa Jungkal telah menempa cara pandang mereka. Mereka menyaksikan sendiri betapa di balik tiap hektar lahan yang menghitam ada kerja keras tanpa warta, dan di balik tiap aksi pemadaman ada koordinasi ratusan nyawa yang saling menopang. Penanganan karhutla pada akhirnya bukan sekadar pertarungan memadamkan jilatan api hari ini, melainkan kesiapsiagaan berkelanjutan dari pelaporan dini, pengawasan kawasan rawan, hingga kesadaran tidak membuka lahan dengan membakar.

Adi dan Leo bukanlah orang-orang yang tak kenal lelah. Mereka hanya menolak menjadikan rasa lelah sebagai alasan untuk berpaling ketika ada warga yang membutuhkan udara bersih untuk bernapas.(Choe)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed