oleh

300 Bibit Bambu dan Jelutung Diuji di Gambut OKI, Pengembangan Disiapkan hingga 100 Hektare

“Bambu ini bukan hanya sekadar penanaman simbolis. Kita juga sudah membicarakan dengan kalangan industri agar bambu bisa dikembangkan menjadi produk mebel dengan sentuhan kearifan lokal, tetapi melalui proses modern sehingga hasilnya lebih tahan lama,” ungkap Herman Deru.

Di tempat yang sama, Kepala Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional, Prof Satyawan Pudyatmoko, mengatakan kawasan tersebut menjadi salah satu contoh upaya pemulihan ekosistem gambut yang patut dikembangkan.

Menurutnya, salah satu kunci menjaga kelestarian gambut adalah memastikan ekosistem tersebut tetap memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Dengan demikian, masyarakat memiliki dorongan untuk menjaga dan mengelola kawasan gambut secara berkelanjutan.

Dalam kegiatan tersebut, dua jenis tanaman yang diuji adaptasinya adalah jelutung dan bambu betung.

“Jelutung memiliki nilai ekonomi dan dapat tumbuh di ekosistem gambut tanpa harus melakukan pengeringan lahan. Di kawasan ini juga sudah banyak ditemukan pohon jelutung, meskipun memang membutuhkan waktu cukup lama untuk menghasilkan,” jelasnya.

Selain jelutung, pihaknya juga melakukan penanaman bambu betung yang merupakan salah satu jenis bambu lokal Indonesia. Tanaman ini diharapkan tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk furnitur dan berbagai kebutuhan lainnya.

Satyawan berharap, apabila dalam kurun waktu tiga tahun bambu betung terbukti mampu tumbuh dengan baik di kawasan tersebut, pemerintah daerah dapat mendukung pengembangan industri pengolahan bambu.

“Kalau nanti bambu ini terbukti tumbuh bagus, kami berharap ada dukungan dari Pak Bupati dan Pak Gubernur untuk menghadirkan industri pengolahan bambu. Bahkan, rebungnya juga berpotensi dikembangkan menjadi produk pangan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum Komunitas Pemuda Ekonomi Hijau Indonesia (KPEHI), Agi Diantoro, menyebut bambu memiliki potensi sebagai salah satu tanaman pendukung mitigasi kebakaran hutan dan lahan.

Ia menjelaskan, rumpun bambu disebut mampu menampung air dalam jumlah besar, bahkan mencapai sekitar 500 liter. Sistem perakarannya juga berperan menjaga kelembapan tanah di kawasan gambut.

“Ketika daun bambu mengering, bagian batangnya masih menyimpan air. Karena itu, bambu bisa menjadi salah satu bagian dari upaya mitigasi awal untuk menekan risiko karhutla,” jelas Agi.

Selain manfaat ekologis, pihaknya juga mendorong hilirisasi hasil tanaman bambu melalui kerja sama dengan industri mebel binaannya. Ke depan, bambu diharapkan dapat diolah menjadi produk furnitur hingga desain interior.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed