Menurut Agi, bambu memiliki potensi kekuatan dan ketahanan yang baik sehingga dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Namun, pengolahan dan pemanfaatannya perlu didukung teknologi serta proses produksi yang tepat.
Ia menambahkan, pengelolaan kawasan gambut nantinya akan mengedepankan konsep ekonomi kerakyatan dengan melibatkan masyarakat desa penyangga sebagai pengelola lahan.
Melalui pembinaan dan penguatan kapasitas masyarakat, restorasi gambut diharapkan tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga sekitar.
“Jadi, masyarakat desa penyangga nantinya dilibatkan sebagai pengelola. Kita ingin restorasi gambut ini menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Untuk tahap awal, pihaknya berkoordinasi dengan Wakil Kepala BPGMN dalam pelaksanaan uji coba penanaman sekitar 300 bibit bambu dan jelutung. Penanaman dilakukan pada demplot seluas satu hektare, dengan rencana pengembangan hingga 100 hektare di Sumatera Selatan.
Melalui uji adaptasi ini, diharapkan bambu dan jelutung dapat menjadi alternatif tanaman produktif di kawasan gambut sekaligus mendukung upaya restorasi, pemberdayaan masyarakat, dan pencegahan karhutla secara berkelanjutan.(Ata)













Komentar