oleh

Petani Sawit OKI Manfaatkan 778 Hektare Lahan PSR untuk Tanam Padi Gogo

Ketua KUD Bina Sejahtera, H. Azhar mengatakan, pupuk organik tersebut diproduksi secara mandiri dengan memanfaatkan limbah sawit dan kotoran ternak. Unit pengolahan pupuk bahkan telah berkembang menjadi usaha tersendiri di bawah naungan koperasi.

“Bahan bakunya berasal dari tandan kosong, solid, limbah cair pabrik sawit, serta kotoran ternak yang difermentasi selama tujuh hari menggunakan QRR dan dolomit,” ujar Azhar, pensiunan penyuluh pertanian lapangan (PPL).

Menurutnya, penggunaan pupuk organik mampu menekan biaya produksi hingga 50 persen. Selain meningkatkan pendapatan petani, unit pengolahan pupuk tersebut juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Kami membeli kotoran ternak masyarakat seharga Rp10.000 per karung. Bahkan air leri atau air cucian beras juga memiliki nilai ekonomis sebagai bahan pupuk cair,” katanya.

Azhar berharap pemerintah dapat memberikan pendampingan, khususnya dalam pengurusan izin produksi pupuk organik, agar produk tersebut dapat dimanfaatkan lebih luas oleh petani sawit di daerah lain. (Choe)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed