oleh

Dari Perut Bumi Prabumulih Hingga Beranda Rumah Kreatif: Dua Wajah Energi Pertamina untuk Negeri

PRABUMULIH, JURNALSUMATRA – Siang itu, derap langkah Sefty karyawan Pertamina pengeboran di Struktur Gunung Kemala, Prabumulih Field, bersahutan dengan tawa canda ibu-ibu di sebuah beranda sederhana di Desa Lubuk Raman, Kecamatan Rambang Niru.

Dua tempat yang berjarak puluhan kilometer, namun diikat oleh satu nama: Pertamina Hulu Rokan Zona 4.

Di satu sisi, ada cerita tentang teknologi. Di sisi lain, ada cerita tentang manusia. Keduanya adalah definisi lengkap dari kata ENERGI.

Selama puluhan tahun, Prabumulih Field dan Limau Field dikenal sebagai lahan tua (mature field). Minyaknya tidak lagi mudah mengalir. Jika menggunakan metode konvensional, pengeboran satu sumur butuh waktu, biaya dan risiko keselamatan yang tinggi karena harus bongkar pasang rig berulang kali.

Namun sejak 21 Juli 2026, Pertamina Subholding Upstream Regional 1 Zona 4 melakukan inovasi, namanya Batch Drilling.

Sebuah inovasi brilian, mengebor beberapa sumur yang berdekatan secara bertahap dalam satu lokasi rig tanpa membongkarnya. Seperti seorang penjahit yang menyelesaikan beberapa pola sekaligus tanpa memutus benang.

Hasilnya mencengangkan. Pada 5 Oktober 2026, Sumur GNK-115 di Struktur Gunung Kemala diuji alir. Secara natural open flow, sumur itu menghasilkan 2.423,29 BOPD minyak dan 1,95 MMSCFD gas. Sebuah angka yang luar biasa.

“Seluruh SDM PHR Zona 4 terus berinovasi dalam mendukung ketahanan energi nasional. Pencapaian di Sumur GNK-115 menjadi pemacu semangat kami untuk tidak pernah berhenti mencari terobosan-terobosan baru yang andal dan berkelanjutan,” ujar GM PHR Zona 4, Heru Irianto, Kamis (15/10/2026).

Sebelumnya, Sumur GNK-114 juga sukses dengan kombinasi batch drilling dan dual completion. Catatan keselamatannya pun juga terbilang sempurna, 57.288 jam kerja selamat (safe man hours) zero accident atau tanpa kecelakaan.

“Efisiensi di kedalaman bumi ini bukan sekadar soal barel, tapi soal nafas ketahanan energi nasional,” beber Heru.

Energi yang Tumbuh di Rumah Kreatif Buk Khaman.

Jika GNK-115 adalah energi dari perut bumi, maka yang ada di Desa Lubuk Raman adalah energi dari hati.

Di desa penyangga wilayah operasi PEP Limau Field itu, berdiri Rumah Kreatif Buk Khaman.

Rumah ini bukan sekadar bangunan. Ia adalah ruang harapan yang dibangun dari program CSR PT Pertamina Hulu Rokan Zona 4 – PEP Limau Field.

Dulu, Lubuk Raman hanya dikenal sebagai desa penghasil karet. Hasil bumi dijual mentah, nilai tambahnya kecil. Ibu-ibu hanya menjadi ibu rumah tangga.

Buk Khaman, seorang perempuan penggerak lokal, dengan didampingi Pertamina, mengubahnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed